Naskah Drama: Murid Baru Terbaru Terviral

Naskah Drama: Murid Baru


Pagi ini merupakan pagi yang sangat cerah. Rojak dan Joni, dua orang siswa kelas X sedang asyik membaca-baca buku Biologi dikelas . Pasalnya nanti siang akan ada ulangan harian mata pelajaran tersebut. Kemudian datang Anggiya, sahabat mereka.

Andre: “jak, Jon, rajin sekali kalian berdua!”

Rojak: “Iya dong, tugas kita sebagai pelajar kan memang harus belajar. Hehehe…”

Andre: “Iya juga sih. Eh ngomong-ngomong kalian tahu tidak, ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita hari ini.”

Joni: “Oh ya, siapa namanya? Lelaki atau perempuan?”

Anggiya: “Lelaki, tapi aku juga belum tahu siapa namanya dan seperti apa rupanya.”

[Bel sekolah berbunyi]

[Tiba-tiba pak Guru masuk bersama seorang murid baru.]

Pak Guru: “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru dari Aceh, ia akan menjadi teman sekelas kalian. Silakan perkenalkan dirimu, nak!”

Iyan: “Selamat pagi, teman-teman. Nama saya Muhammad Iyan. Saya berasal dari Aceh.”

Rojak [berbisik pada Andre]: “Jauh sekali ya, dari Aceh pindah ke Pemalang!”
[Andre hanya mengangguk tanda setuju]

Pak Guru: “Iyan, kamu duduk di belakang Joni ya [menunjuk sebuah meja kosong]. Untuk sementara kamu duduk sendiri dahulu karena jumlah siswa di kelas ini ganjil.”

[Iyan segera duduk di kursi yang disediakan]

Pak Guru: “Ya baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian di halaman 48….”

[Pelajaran pun dimulai]

Tiba saatnya jam istirahat. Iyan, yang belum memiliki teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk. Rupanya belum ada yang mau mendekati Iyan. Semua siswa di kelas itu masih sungkan dan hanya mau tersenyum saja padanya tanpa berani mengajak ngobrol lebih lanjut.

Joni: “Psst, jak,  ndre, coba lihat anak baru itu, sendirian saja ya!” [berbisik pada Rojak dan Andre saat mereka mau ke kantin]

Rojak: “Ayo kita dekati saja.” [Ketiganya menghampiri Iyan]

Andre: “Hei, Iyan. Kenalkan, aku Andre, ini Joni dan Rojak [menunjuk kedua temannya].”




[Ketiganya duduk di sekeliling Idwan]

Iyan: “Hai, salam kenal.”

Joni: “Kamu kok tidak jajan ke kantin?”

Idwan: “Aku… Aku bawa bekal makanan [pelan sekali, sambil tertunduk].”

Rojak: “Oh begitu, rajin sekali kamu, Yan!

[Keempat siswa ini mulai terlibat obrolan ringan sehingga Iyan merasa ditemani]

Keesokan harinya ketika Joni , Andre dan Rojak baru tiba di sekolahan tiba-tiba, Pak Guru memanggill Andre dan Joni yang baru tiba

Pak Guru: “Andre, Joni! Ke sini sebentar. Bapak mau menanyakan sesuatu.”

[Andre dan Joni menghampiri pak Guru]

Joni: “Ada apa, pak?”

pak Guru: “Itu, bagaimana perilaku Iyan di kelas? Apakah ia bisa membaur?”

Joni: “Dia agak pendiam, pak. Dan suka menunduk saat berbicara.”

Andre: “Kemarin di jam istirahat, kami berdua dan Jenita berusaha mendekatinya. Kami mengobrol cukup lama, ia anak yang baik kok, hanya saja ia seperti agak kurang percaya diri dan muram.”

Pak Guru: “Hmm… begitu ya. Anak-anak, Iyan adalah salah satu korban selamat tragedi tsunami Aceh beberapa bulan yang lalu. Kedua orang tuanya tewas terhempas ombak. Kini hanya tinggal ia dan adik perempuannya, Annisa. Annisa masih duduk di kelas 4 SD, di SD V kota kita ini.”

Andre: “Ya Tuhan, sungguh berat cobaan yang menimpanya…”

pak Guru: “Iya. Untungnya, seorang pamannya tinggal di pemalang sehingga ia dan adiknya tinggal di sini. Mereka tergolong masyarakat prasejahtera, sehingga Iyan benar-benar harus berhemat. Pamannya berkata pada Ibu tadi pagi, ia tak mampu memberi uang jajan yang cukup untuk Idwan sehingga Iyan harus bekal nasi setiap hari agar tidak lapar di sekolah.”

Joni: “Oh pantas saja kemarin jam istirahat ia tidak ke kantin.”

pak Guru: “Ya sudah,  Bapak cuma mau bilang begitu. Kalian berbaik-baiklah dengannya. Temani dia agar tak merasa kesepian dan terus berduka.”
[Andre, Joni dan Rojak pamit masuk kelas]

[pelajaran pun dimulai]
Tiba saatnya istirahat , iyan yang pendiam masih menunduk kepalanya , melihat itu andre menghampirinya
Andre: “kamu udah meringkas bab ini belum ! ‘’
Iyan  : ‘’Belum’’
Andre:’’yaudah ini pinjam punya ku saja [sambil menyodorkan bukunya]
Iyan :’’Terima kasih teman-teman , kalian sangat baik kepadamu.’’
Joni  : “Kamu ini bicara apa, sih? Kita kan teman, wajar saja jika kita saling bersikap baik.”

Sejak saat itu Idwan menjadi semakin kuat karena mendapat dukungan dari teman-teman barunya

No comments:

Post a Comment